‘Menculik’ Soekarno di Bengkulu

0

Cerita ini hanya fiktif belaka, ditulis oleh pengurus Ikatan Guru Indonesia (IGI) Provinsi Bengkulu . Jika ada kesamaan kronologi dan peristiwa itu hanya kebetulan saja.

Seminar Nasional dan Rakernas I, Ikatan Guru Indonesia (IGI) dengan tema Sinergi IGI untuk Indonesia maju.

Alkisah, di Bengkulu akan digelar suatu kegiatan nasional. Para panitia yang kita sebut saja “Golongan Muda” mulai mempersiapkan segala sesuatunya untuk mensukseskan kegiatan tersebut. Kegiatan ini adalah kegiatan besar yang melibatkan seluruh peserta dari Indonesia.

Golongan Muda meyakini bahwa kemerdekaan berserikat itu dijamin Undang-undang, dan merupakan hak setiap warga negara. Konsolidasi dan sosialisasi mulai massive dilakukan, intens bertemu dengan semua pejabat di daerah maupun pejabat di pusat. Semula para pejabat di Daerah sangat mendukung kegiatan nasional ini, sampai suatu ketika entah ada angin apa dukungan yang semula diberikan perlahan mulai ditarik. Indikasinya mulai dari dukungan transportasi yang dibatalkan, sampai kepada delegasi pejabat yang menghadiri juga dialihkan.

Usut punya usut ditarik dukungan yang semula besar ini, ternyata dilatar belakangi oleh suatu komunitas yang kita sebut “golongan tua” terusik eksistensinya dan mulai menjadi resistensi kegiatan ini. Tak cukup dengan sekedar menghimbau untuk tidak mendukung, para Golongan tua juga mengadakan kegiatan di hari dan jam yang sama. Tragisnya kegiatan ini dilakukan secara mendadak, mungkin saja ini hanya demi menghalangi suksesnya kegiatan golongan muda.

Kegiatan Nasional yang dihadiri para pejabat negara, salah satunya adalah ketua lembaga tinggi negara, dan turut hadir juga pejabat dari salah satu kementerian, yakni Dirjend yang membidangi. Pejabat kementerian kita sebut Dirjend ini diundang dalam rangka menghadiri acara Kegiatan Nasional golongan muda. Dia memenuhi undangan setelah didatangi pengurus pusat golongan muda. Dan kesediaan beliau hadir juga membuktikan betapa besar dukungan dan bantuan yang diberikan.

Tragis memang setibanya di Bengkulu, si pejabat kementerian dijemput oleh pejabat daerah, kemudian secara sengaja diarahkan untuk menghadiri kegiatan golongan tua dengan hari dan jam yang sama dengan pembukaan kegiatan nasional golongan muda. Ceritanya kemudian dapat kita tebak, kegiatan golongan tua molor waktunya. Entah sengaja atau tidak ini secara tidak langsung “menahan” si pejabat untuk menghadiri acara Golongan muda. Sebaliknya, kegiatan golongan muda dibuka tepat waktu.

Sambutan silih berganti, sampai kepada sambutan oleh pejabat ketua lembaga tinggi negara, ya wajar saja beliau menanyakan si pejabat negara mewakili menteri belum muncul. Padahal katanya sudah ketemu di hotel tempat mereka menginap. Sampai berakhirnya seluruh sambutan, si pejabat negara belum juga tampak di kegiatan ini.

Dengan penuh inisiatif, pengurus Golongan muda dan didampingi panitia, menjemput pejabat negara ini untuk hadir di kegiatan seperti tujuan awal beliau hadir di Bengkulu. Siapa yang mengundang, siapa pula yang mengambil kesempatan. Sungguh malu, golongan tua yang tidak mengundang malahan mengambil kesempatan menghadirkan pejabat negara di acara mereka.

Kisah golongan tua dan golongan muda mengingatkan kita pada peristiwa sejarah Rengasdengklok, kala itu Sukarno diculik oleh golongan muda demi melangsungkan Proklamasi Kemerdekaan. Alhasil Indonesia merdeka hingga kini, dan proklamasi dilakukan secara cepat dan seksama, yang menikmati hasil kemerdekaan adalah seluruh rakyat Indonesia tanpa memandang dia dari golongan apa.

Egosentrik golongan tua rupanya terusik dengan kehadiran golongan muda, eksistensinya bisa saja teganggu. Golongan muda ini punya semangat yang pantang menyerah, terbatasnya dana, dan kecilnya dukungan pemerintah membuat mereka tambah termotivasi menyukseskan kegiatan nasional di Bengkulu ini.

Cerita penculikan sukarno secara kebatinan juga dialami golongan muda yang menjemput pejabat negara tersebut. Hikmahnya sekuat tenaga dihalangi dengan dinding penghalang, jika tekad sekuat baja, tetap saja akan dapat ditembus. Faktanya Meski selalu “dihalangi”, kegiatan golongan muda tetap teselenggara dengan baik.

Seharusnya golongan tua dan golongan muda tetap harus bersinergi membangun negeri. Golongan tua menunjukkan kedewasaan berorganisasi, jangan seperti anak tunggal yang karena manja begitu usil kepada adiknya. (**)

 

iklan 2
bawah berita