Kajati Diganti, Penanganan Kasus Dugaan Korupsi Bank Bengkulu Dipastikan Berlanjut

0

Kontrass.co– Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Bengkulu, Andi Muhammad Taufik, SH. MH akan segera mengakhiri tugasnya di Bengkulu. Namun hal itu tidak akan membuat penanganan kasus dugaan korupsi yang sedang ditindak lanjuti berhenti. Salah satunya pengusutan dugaan kasus korupsi Bank Bengkulu.

Andi mengatakan kasus dugaan korupsi Bank Bengkulu masih dalam tahap penyelidikan. Dan itu pihaknya sudah komitmen dengan teman-teman di Kejaksaan Tinggi untuk ditindaklanjuti sampai selesai.

“Bagaimana caranya ada keterbukaan kepada masyarakat dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Perkara besar ataupun kecil harus dilaksanakan. Memang ada amanah dari Jaksa Agung utamakan pecegahan, tapi pencegahan itu kalian harus tau juga, itu harus ada pengembalian Kerugian Negara, “ujarnya

Andi menegaskan, dalam memberantas korupsi secara umum, pihaknya tidak melihat dari mana institusinya. Tapi yang harus disoroti adalah oknum yang melakukan korupsi agar mereka sadar dan insaf.

“Jadi jangan salah pengertian, bukan instansinya yang salah, tapi oknum didalamnya yang mencari keuntungan sebesar-besarnya. Kalau Bank Bengkulunya bagus kalau menurut saya tidak ada masalah, tapi oknumnya yang perlu ditindak lanjuti. Karena ini masih penyelidikan, sehingga tidak perlu panjang lebar sehingga pengganti saya disini yang akan meneruskan perkembangannya sesuai dengan peraturan yang berlaku,”tutupnya

Sementara, seperti diberitakan sebelumnya Kepala Bagian Pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bengkulu, Asnawati menyebut setiap tahun OJK melakukan pengawasan rutin terhadap seluruh perbankan milik Negara mupun Pemerintah Daerah. Salah satunya Bank Bengkulu.

Kata Asnawati, sebagai otoritas pengawasan perbankan, di Bank Pembangunan Daerah (BPD) atau Bank Bengkulu sudah pada temuan pada tahun 2013. Temuan itu dari hasil pemeriksaan Bank Indonesia (BI).

Kemudian, ketika pengawasan dan pemeriksaan perbankan beralih ke OJK pada tahun 2014 juga ada temuan pemeriksaan di Bank Bengkulu.

Lalu, Asnawati menyebut yang menjadi konsen dari pemeriksa pada saat itu adalah hal yang dilakukan oleh BPD Bengkulu ini memang tidak sesuai dengan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dan Undang-Undang yang terkait dengan penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas KKN.

Selanjutnya, baik di OJK maupun Bank Indonesia, pengawas sudah melakukan koordinasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ada tahun 2014 dan 2019. Saat itu mengkoordinasikan bentuk-bentuk gratifikasi dikategorikan oleh KPK yang dilarang.

Sekedar mengingatkan, Tim Penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bengkulu saat ini sedang melakukan penyelidikan terhadap Bank Bengkulu terkait dugaan program kontra prestasi atau timbal jasa kepada pihak mitra kerja atas kredit ASN.

Tim Penyidik sudah memanggil beberapa pihak pejabat Bank Bengkulu seperti Direktur Utama Bank Bengkulu Agus Salim, Direktur Kepatuhan Neni, Mantan Direktur Pemasaran, Alfian, Kepala Bagian Pemasaran Dahliana Santi, Kepala Bagian Teasury Bank Bengkulu Dianita Afrianti dan mantan Dirut Bank Bengkulu, Wimran Ismaun.

Penulis : Mahmud Yunus

 

Komentar