IGI Kecam Aksi Pelecehan Seksual oleh Oknum Pejabat Disdikbud Seluma

0

Kontrass.co– Ikatan Guru Indonesia (IGI) Provinisi Bengkulu mengecam keras dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oknum pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Seluma terhadap salah seorang guru Sekolah Menengah Pertama (SMP).

“Dengan kejadian yang dialami rekan kami, ini sudah diambang batas. Apalagi ini dilakukan oknum pejabat di Disdikbud yang seharusnya mencerminkan hal-hal yang baik apalagi ini terjadi ke guru, bearti ini sudah tidak menghargai guru lagi, mau dibawa kemana dunia pendidikan kita,”Kata Sekjend IGI Provinsi Bengkulu, Feri Vahleka kepada Kontrass.co

Menyikapi aksi tak senonoh yang dialami rekannya, Feri menyebutkan korban sudah melayangkan surat pengaduan pribadi ke Inspektorat Kabupaten Seluma dan didampingi langsung Ikatan Guru Indonesia. Namun, Feri menegaskan pihaknya berencana akan menempuh langkah hukum apabila Inspektorat Kabupaten Seluma tidak memberikan respon.

“Ini belum kami bawa keranah hukum, Tapi dalam waktu dekat pihak keluarga didampingi IGI akan membawa keranah hukum jika Insprktorat tidak bersikap. Bila perlu Bupati maupun wakil Bupati Kabupaten Seluma untuk memberikan tindakan tegas dengan oknum yang diduga melakukan tindakan tak senonoh tersebut,”tegasnya.

Sementara, setelah kejadian ini mencuat kepublik, Oknum Pejabat Disdikbud Kabupaten Seluma akhirnya angkat bicara. Dirinya mengatakan tudingan telah melakukan pelecehan seksual terhadap salah seorang guru SMP yang bertugas di Seluma hanya kesalahpahaman saja.

Meski mengaku enggan membela diri, namun dirinya menjelaskan kesalahpahaman tersebut sudah diselesaikan secara kekeluargaan.

“Sudah saya selesaikan secara kekeluargaan, tapi saya tidak mau membela diri dalam hal ini, hanya Tuhan yang tahu, yang jelas ini sudah diselesaikan,” jelasnya, Senin, 12 Juli 2021.

Dia membenarkan guru tersebut bersama rekan-rekannya ke ruang kerjanya terkait urusan kedinasan. Namun juga memastikan bahwa tidak ada hal-hal senonoh yang dilakukan, yang ada hanya kesalahpahaman saja.

“Yang pastinya sudah diselesaikan, hanya salah paham saja,” pungkasnya.

Saat dimintai klarifikasi perihal isu yang tengah berkembang oleh awak media massa, oknum pejabat tersebut juga sempat meminta hal ini tidak menjadi konsumsi media. Sebab dikhawatirkan kesalahpahaman yang terjadi akan ditanggapi berbeda dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Seperti diberitakan sebelumnya, menyeruak dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oknum pejabat di Disdikbud Seluma. Sebagaimana cerita korban yang mengaku pernah ingin dicium dan dipeluk pada 2 Juli 2021 lalu saat ia bersama rekan-rekannya menghadap terkait urusan kedinasan.

“Saat itu saya dipanggil untuk urusan dinas dan saya masuk ke ruangan dia bersama lima orang rekan saya. Tiga orang perempuan dan dua orang laki-laki. Kami mendapat arahan tentang kegiatan,” tuturnya Minggu, 11 Juli 2021.

Dugaan pelecehan itu terjadi saat ia akan meninggalkan ruangan. Saat kesemua rekannya sudah keluar, terduga justru bilang mau cium dirinya, namun ditolak.

“Pas dia bilang saya mau cium kamu, saya bilang saya enggak mau pak. Saya berdiri, saya berlari tapi dia hadang, karena saya terhalang kursi, lalu saya muter keliling meja tamu dia, dan dia hadang saya lagi. Dia berusaha memeluk saya, saya nunduk dan saya dorong, dan saya tendang meja kaca di ruang tamu dia, sehingga dia terjatuh, saya lari keluar pintu,” kata korban saat menceritakan kembali kejadian yang dialaminya.

Setelah berhasil keluar, korban langsung menangis, ia mengaku takut dan badannya gemetaran.

“Setelah berhasil keluar, sesampainya didepan pintu itu banyak staf. Salah satu staf saat itu manggil saya, bu katanya, ada apa bu saya bilang, akhirnya saya temui staf itu saya peluk staf itu terus masuk ke bidang. Saya temui dan saya nangis bersama staf itu di situ (ruang bidang). Karena saya merasa emosi jadi saya hanya nangis dengan staf tersebut, karena apa yang sudah dilakukan itu di luar perkiraan saya, sangat menakutkan membuat saya gemeteran,” ujarnya.

Tak hanya itu, sebelumnya oknum pejabat tersebut juga pernah diduga melakukan pelecehan verbal terhadap korban, yang pertama pada tahun 2020, yang kedua pada Mei 2021 di Balai Adat Seluma.

“Dia pernah bilang dia ngajak ayo ke Jakarta, gampang kok nanti tinggal sama orang rumah, nanti saya bikinkan surat, gampang di Jakarta itu enggak pakai rapid tes hanya di bandara saja. Maaf pak saya tidak mau saya bilang begitu, saya bisa ke Jakarta sendiri saya bilang begitu. Nah dia berusaha, ayo bu nyanyi atau kita berdua saja nyanyi gimana. Saat itu kawan saya juga mendengar perkataan yang tidak etis diucapkan seorang pejabat seperti dia itu. Jadi saya merasa tidak nyaman kalau harus berdiskusi atau ngobrol dengan dia,” bebernya.

Lantaran tindakan oknum sudah diluar kewajaran, ia sudah menceritakan hal ini kepada pihak keluarga dan berencana membuat laporan ke pihak berwajib. Termasuk meminta perlindungan kepegawaian tempatnya bekerja.

“Saya sudah diskusi dengan keluarga juga, saya akan melapor ke yang berwajib maupun minta perlindungan kepegawaian di tempat saya bekerja,”pungkasnya

 Penulis : Mahmud Yunus

iklan 2
bawah berita