Dugaan Korupsi Dana BOS Seluma, Kejati Sudah Kirim SPDP ke KPK

0

Kontrass.co– Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bengkulu, Agnes Triani, S.H., M.H melalui Asisten Tindakan Pidana Khusus (Adpisus) Pandoe Pramoe Kartika, S.H menyebutkan pihaknya sudah mengirimkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)terkait kasus dugaan korupsi pengadaan alat untuk tingkat SD dan SMP pada Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Seluma yang dananya bersumber dari dana bos Afirmasi Tahun 2020 sebesar Rp. 6 Miliar lebih. 

“Jadi memang itu suatu keharusan, sesuai dengan nota kesepahaman jadi ada SPDP Online. SPDP online itu harus kita menyampaikannya salah satunya ke KPK. Dengan pengusutan kasus itu kita naikkan ke Penyidikan SPDP nya kita laporkan ke KPK,” Ujarnya

Pandoe menambahkan, soal Kerugian Negara (KN) dalam kasus tersebut pihaknya masih mengumpulkan bukti-bukti dan masih memanggil pihak terkait. Pandoe memastikan setelah semua selesai barulah diajukannya permintaan audit ke Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). 

“Kita masih mengumpulkan bukti-bukti, pemanggilan saksi-saksi supaya jelas dimana letak perbuatan melawan hukum dan kerugian negaranya,” Pungkasnya

Untuk kelengkapan penyidikan, Pandoe memastikan pihaknya sudah meminta keterangan saksi ahli terkait penyalahgunaan wewenang jabatan, atura mekanisme dana BOS dan lain-lain. 

“Kita sudah mengirimkan salah satu penyidik ke Pusat untuk minta keterangan saksi ahli soal kasus ini, semuanya sudah selesai,” bebernya

Sekedar mengingatkan, dalam kasus ini Kejati Bengkulu sudah memanggil saksi-saksi antara lain, Midi Kepala Sekolah SD Negeri 150 Seluma, Unang Sudirman Kepala Sekolah SD Negeri 125 Seluma, Jahin Kepala Sekolah SD Negeri 135 Seluma dan Alinin Kepala Unit Pelaksanaan Teknis Daerah (UPTD) Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin) Wilayah Semindang Alas/Semindang Las Maras Kabupaten Seluma.

Mereka diperiksa seputar pembelian alat media pembelajaran dan alat prokes yang pembeliannya di sejumlah toko di Seluma diduga harganya di mark up. 

Penulis : Mahmud Yunus

 

 

Komentar